Showing posts with label Kisah Islami. Show all posts
Showing posts with label Kisah Islami. Show all posts

Thursday, August 9, 2018

DATU KALAMPAYAN MARTAPURA ( Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari )



Kehidupan Perahu - Datu Kalampayan tidak lain adalah maulana syekh Muhammad Arsyad bin Abbdullah Al-Banjari.lahir 15 shafar 1122 h bertepatan dengan 19 Maret 1710 M di LOk Gabang,dan wafat di Dalam Pagar 6 syawaal 1227 H bertepatan dengan 13 Oktober 1812 h dalam usia 105 tahun dan dimakamkan dikampung tersebut,yaitu desa Kalampayan ( sekitar 56 km dari Banjarmasin).

Maulana syekh Muhammad Arsyad adalah seorang ulama yang sangant berpengaruh dan mempunyai peran penting dalam sejarah pengembangan siar agana Islam,khususnya di bumi Kalimantan .Seorang yang sangat gigih mempertahankan dan mengembangkan faham Ahlus Sunah Wal jama'ah dengan faham Asy'ariah untuk Ilmu Tauhid,dan Mazhab Imam syafi'i untuk bidang Ilmu fiqih.Beliu juga seorang mufti (penasehat agama) pada Kesultanan Banjar,dan juga seorang penulis yang produktif.

Maulana syekh Muhammad Arsyad ketika kecilnya bernama ja'far,adalah anak tertua dari lima bersaudara hasil perkawinan Abdullah dengan siti aminah.Adapun anak Abdullah dengan Siti Aminah adalah:
  1. haji Muhammad Arsyad
  2. Haji Zainal Abidin
  3. Abidin
  4. Diang Panangah
  5. Normin
Sejak kecil, tepatnya paa umur sekitar 7 tahun Muhammad Arsyad kecil sudah fasih dalam membaca Al-Quran.Bakat tulis-menulis juga sudah mulai nampak terlihat padanya dikala itu.Karenanya beliau dipelihara dan dikumpulkan oleh sultan bersama dengan anak-anak dan cucu-cucu keluarga kerajaan

Karena bakat dan kepandaian beliau dalam mempelajari ilmu agama,maka menjelang usia 30 tahun Muhammad Arsyad diberangkatkan ketanah suci Mekkah untuk memperdalam ilmu agama dengan biaya sultan (kerajaan),karena sultan berharap dengan ilmu yang diperolehnya ditanah suci itu kelak akan dapat membimbing dan mengajarkan kepada rakyat Banjar dan sekitarnya dalam hal ke agamaan (Islam)

Di tanah Suci Mekkah dan Madinah beliau belajar kepada para ulama yang terkenal, antara lain:
  1. Syekh Athaillah bin Ahmab Al-Mihsri Al-Azhar
  2. Syekh Muhammad bin Sulaiman Al-Kurdi.Madinah.(pengarang kitab Hawasyil madaniyyah)
  3. Syekh Muhammad bin Abdul Karim As-Sammany Al-Madany,dalam bidangtasawuf yang akhirnya mendapatkan Ijazah dengan kedudukan Khalifah (wakil). 
  4. Syekh Ahmad bin Abdul Mun'im Ad-Damanhuri.
  5. Syekh Sayyid Abul Faydi Muhammad Murtadha' Az-Zabidi
  6. Syekh Hasan bin Ahmad 'Akisy Al-Yamani
  7. Syekh Salim bin Abdullah Al-Bashr.
  8. Syehk Shiddiq bin Umar Khan.
  9. Syekh Abdullah bin Hijazi bin Asy-Syarqawi 
  10. Syekh Abdurrahman bin Abdul Aziz Al-Maghrabi.
  11. Syekh Sayyid Abdurrahman bin Sulaiman Al-Ahdal.
  12. Syekh Abdurrahman bin Abdul Mubin Al-Fathani.
  13. Syekh Abdul Ghani bin Syekh Muhammad Hilal.
  14. Syekh 'Abid As-Shindi.
  15. Syekh Abdul Wahab Ath-thanthawi.
  16. Syekh Maulana Sayyid Abdurrrahman Mirghani.
  17. Syekh Muhammad bin Ahmad Al-jawahir.
  18. Syekh Muhammad Zayn bin Faqih Jalaludin Aceh.
Ketika di Mekkah beliau berkenalan dan bersahabat dengan penuntut-penuntut setengah air,antara lain: Abdul Wahhab Bugis dari Makasar,Abdus Samad dari Palembang (pengarang kitab Siyarus Salikin dan Hidayatus Salikin) dan Abdur Rahman Masri dari Betawi (jawi).Konon di Mekkah itu pula sempat berkenalan dan sekaligus berguru kepada Datu Sanggul (Abdus Samad),yang pada akhirnya beliu diberi kitab yang terkenal dengan sebutan Kitab Barencong oleh Datu Sanggul.

Setelah lebih 30 tahun belajar ditanah suci beliau akhirnya dapat menguasai keahlian diberbagai bidangilmu agama seperti:ilmu fiqih,ilmu tasawuf,usul fiqih,cabang -cabang bahasa Arab seperti: nahwu,sharaf,balaghah dan lain-lain,serta ilmu falak (astronomi) dan ilmu umum seperti politik serta pemerintahan . Selesai mempelajari yang disebut diatas beliau pulang ketanah air bersama kawan-kawannya.

Sebenarnya beliau dan kawan - kawan tidak ingin pulang ketanah air tetapi ingin melanjutkan belajar di Mesir,namun maksud tersebut terpaksa dibatalkan karena Syekh sulaiman Al-kurdi menyatakan bahwa ilmu mereka sudah dalam dan luas,lebih penting pulang ketanah air untuk memberi pelajaran dan membimbing masyarakat didaerah masing-masing.

akhirnya mereka menuruti nasehat guru mereka itu.Setiba ditanah betawi (Jakarta) Muhammad Arsyad dan kawan-kawan disambut oleh para ulama dan orang banyak dengan gembira. Selama 60 hari berada di betawi (jakarta),beliau berkunjung kebeberapa mesjid.Berikut beberapa karamah (keahlian)yang beliau miliki,beliau dapat membetulkan arah kiblat mesjid yang kurang tepat.mesjid yang beliau perbaiki arahkiblatnya adalah mesjid Jembatan Lima,Mesjid Luar Batang, dan Mesjid Pekojan.

Selanjutnyabeliau menuju banjar masin dengan menumpang kapal Belanda. Sampai ditengah laut jawa.kapten kapal bertanya. "ya Tuan haji besar! berapakah kedalaman laut jawa ini?" kata kapten kapal.(Haji Bear adalah gelar kehormatan bagi tuan guru yang menuntut ilmu di tanah Suci Mekkka). Sebelum menjawab beliau memandangi air laut jawa tersebut,kemudian beliau berkata "200 meter"jawab syekh Muhammad Arsyad.

Kapten kapal tersebut tidak langsung percya dengan jawaban Syekh Muhammad Arsyad itu,kemudian dia mengambil meteran panjang dan mengukur kedalaman air laut tersebut.Setelah diukur ternyata kedalaman air laut tersebut tepat 200 meter,sedikitpun tidak kurang atau lebih, Kapten kapal Belanda itu menggelengkan kepala mendengar jawaban Syekh Muhammad Arsyad. "tuan Haji Besar, asnda orang hebat !" puji kapten kapal..'Dari warna airnya,bila air laut berwarna putih kebiruan kedalamannya 200 meter,seperti laut jawa ini bila kebiru-biruan maka kedalamannya mencapai 2000 meter,dan bila berwarna biru kedalamannya mencapai 2000 meter lebih' jawab Syekh Muhammad Arsyad dengan mantap."Tuan ,Betul".kata kapten kapal belanda itu kagum akan kecerdasan dan ilmu yang dimiliki beliau.

Pada bulan Ramadhan 1186 h. (1773 M.) sampailah beliau ditanah Banjar. Kedatangan beliau disambut meriah oleh kerajaan beserta seluruh masyarakat.

Supaya Syekh Muhammad Arsyad leluasa mengembangkan ilmu yang telah diperolehnya ,oleh sultan Tahmiddulah II beliau diberi sebidang tanah belukar diluar kota Martapura ,tepat di tepi sungai menuju Banjarmasin.tanah belukar itu dijadikan perkampungan tempat tinggal dan ditempat itu pula beliau dapat mengajarkan ilmu-ilmu yang yang telah didapatnya dengan membuka pengajian-pengajian. Disamping mengajar beliau juga seorang pengarang yang produktif,beliau mengarang kitab-kitab agama untuk bahan pelajaran bagi para penuntut ilmu, seperti:

  1. Sabillal Muhtadin. Berisi tentang fiqih.
  2. Risalah ushuluddin. Kitab tauhid bahasa melayu tulisan arab.
  3. Ditulis pada tahun 1188 H.
  4. Tuhfatur Raghibin.Berisi tentang tauhid.ditulis pada tahun 1188 H.
  5. Kanzul Ma'rifah.Berisi tentang ilmu tasawuf.
  6. Luqthatul'Ajilan.Kitab khusus membahas fiqih tentang perempuan
  7. Kitab Faraid.Berisi tentang tata cara pembagian waris.
  8. Al-Qawlul Mukhatashar.Berisi tentang Imam Mahdi.
  9. Ditulis pad tahun 1196 H.
  10. Kitab ilmu falak.Berisi tentang astronomi.
  11. Fatwa Sulayman Kurdi. Berisi tentang fatwa-fatwa guru beliau sulayman kurdi
  12. Kitabun Nikah. Berisi tentang tata cara perkawinan dalam syariat islam.

Selain itu ada pula karya tulisan beliau dalam ukuran besar dan AL_QUR'AN
tulisantangan beliau dalam ukuran besar dan dengan khath yang sangat indah di Museum nasional Banjarbaru Kalimantan Selatan.

Kitab - kitab beliau tersebut sampai sekarang masih dijadikan bahan kajian dan pelajaan ,bahkan sebagai bahan pegangan dalam melaksanakan ibadat,terutama kitab Sabilal Muhtadin.Kitab Sabilal Muhtadin ini tersiar luas di Asia Tenggara bahkan sampai ke Mekkah dan Mesir , dan ini merupakan salah satu karamah ( kemulian ) beliau.

Maulana Syekh Muhammad Arsyad Al-banjari mempunyai 11 (sebelas) orang istri,dan mempunyai 30 (tiga puluh ) orang anak,istri-istri beliau adalah:

1. Tuan Bajut.
2. Tuan Bidur.
3. Tuan Lipur.
4. Tuan Guwat.
5. Tuan ratu Aminah.
6. Tuan Gandar Manik.
7. Tuan Palung.
8. Tuan Turiah.
9. Tuan Daiy.
10. Tuan markidah.
11.Tuan Liyuh.

Karamah (Kemulian) beliau adalah makam beliau yang sampai sekarang sangat ramai diziarahi orang.Dengan ziarahnya orang-orang yang datang dari segala penjuru Kalimantan dan Luar Kalimantan,mereka membagi - bagikan hadiah pada penduduk Kalampayan yang ada disekitar makam itu.Hal ini adalah nikmat dan rizeki bagi masyarakat sekitar makam beliau,dengan kata lain,walau beliau sudah lama meninggal dunia, beliau masih dapat membantu penduduk kampung sekitar makam beliau.

Thursday, December 7, 2017

Abon Idi Cut ( Tgk H.Saiful Anwar)


Perahu Kehidupan - Nama beliau adalah Tgk H.Saiful Anwar, Ulama yang memiliki kharisma yang tawadhuk dan sangat menghormati Sesama.

Abon Idi Cut adalah salah satu Ulama Kharismatik Aceh Timur. Saat ini beliau masih memegang kepemimpinan Dayah Darussa'adah Teupin Raya Cabang Idi Cut setelah meninggalnya Mertua Beliau Yang juga merupakan salah Satu Ulama Besar Di Idi Cut yaitu Alm Tgk H.Abdul wahab atau Akrab dikenal dengan panggilan Abu Idi Cut.
Abon Idi Cut adalah Ulama yang memiliki sifat Tawadhuk yang Luar biasa, Sangat menghargai sesama dan Mudah dekat dengan Sesama.

Salah satu sikap beliau yang luar biasa adalah dalam menanggung tanggung jawabnya. Pada Saat HAUL alm Abon Teupin Raya. Abon Idi Cut tetap menyempatkan diri untuk menghadiri Acara HAUL Tersebut, Walaupun saat itu harus menghadiri HAUL tsb dengan menggunakan Angkutan Umum L300. Padahal Jarak yang harus beliau tempuh sangatlah jauh yaitu dari Aceh Timur menuju Ke Teupin Raya Pidie.

Tapi karena sikap Tawazuknya yang luar biasa, Abon tetap memenuhi undangan Tersebut.

Semoga Allah terus memberikan kesehatan Kepada Guru Kita Abon Idi Cut.

اللهم طول عمور هم و صحح اجساد هم

Aamiin

Monday, December 4, 2017

Bagaimana Sikap Kita Saat Di Caci


Perahu Kehidupan - Dulu, di awal-awal dakwah Guru Mulia Al-Habib Umar bin Hafidz biasa beliau menziarahi salah seorang ulama. Ternyata orang (ulama) yang diziarahi itu termasuk mereka yang tidak suka dan iri dengan dakwah Habib Umar. Maka bukannya disambut dengan baik, beliau malah disuguhi caci-makian oleh si tuan rumah: "Kamu ini, masih muda sudah berlagak dakwah" dan pekrataan kurang menyenangkan lainnya

Habib Umar bin Hafidz hanya terdiam, lalu mendunduk penuh adab dan tetap mendengar ucapan orang itu sampai selesai. Ketika orang itu sudah puas dan lelah dengan caci-makinya, 

maka Habib Umar pun menangis lantas berkata: “Sayyidi (Tuanku), semua yang engkau ucapkan hanyalah sebagian dari aib-aibku yang kau ketahui. Masih banyak lagi aib dan dosa diriku yang hina ini yang belum engkau ketahui.”

Alkisah, suatu hari Sayyidina Ali Zainal Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib Ra. lewat di sebuah jalan bersama para muridnya. Tiba-tiba seseorang mendatangi dan menampar pipi beliau sekeras kerasnya. Orang itu kemudian lari yang menjadikan para murid Sayyidina Ali Zainal Abidin marah besar dan berusaha mengejar orang itu. Tapi guru mereka malah tetap tenang, bahkan tersenyum dan berkata: “Siapa yang menghendaki hal ini terjadi padaku?”
Mereka menjawab: “Allah.”

“Apakah kalian kira aku akan menolak kehendak dan takdir Allah (yang terjadi pada diriku ini)?”---- pungkas Sayyidina Ali Zainal Abidin Ra.

Dari 2 kisah ini bisa diambil pelajaran bagaimana cara mengatasi emosi ketika kita hendak meluapkan kemarahan pada orang lain. Ingatlah bahwa:

Siapa sih diri kita ini sebenarnya, bukankah kita ini cuma hamba kurang ajar yang hobinya berbuat dosa? --- Apa orang hina seperti kita pantas dihormati dan dipuji-puji orang? Kalau mereka tahu aib-aib kita, jangankan salaman, kenal sama kita saja mereka tak akan mau (meminjam kalimatnya Habib Ali al-Jufri).

sebagaimana mereka Ulama Habaib mengikuti jalan Kakek dan para leluhurnya dengan akhlak yang baik sanad yang kuad sampai menyambung kepada Rasulullah 

mari kita sebagai pecintanya juga meniru guru guru kita, sedikti demi sedikit Insyha Allah akan diberi pertolongan 

Semoga Allah, menutup aib aib kita didunia dan akhirat, dikumumpulkan bersama orang - orang sholeh dimatikan dalam cinta dan air mata rindu kepadabRasulullah SAW. Amiiin.



Tuesday, November 21, 2017

Kisah Sedih Putra Mahkota Sultan Aceh Terakhir


Perahu Kehidupan - Majelis Kesultanan Aceh juga menunjuk Tuanku Raja Keumala, Tuanku Hasyem (sekaligus wali Tuanku Muhammad Daud) dan Teuku Panglima Polem sebagai pelaksana jalannya pemerintahan dan selanjutnya memerintahkan Teuku Cik Di Tiro sebagai pemimpin perang melawan Belanda. Pada tahun 1904, Sultan Daud Syah ditangkap dan dibuang oleh Belanda ke Pulau Jawa. Menjelang tertangkapnya beliau, ia menyerahkan kekuasaan kepada Teuku Mahyeddin di Tiro (putra bungsu Teuku Tjik Di Tiro) melanjutkan peperangan melawan Belanda. Perang Aceh berakhir pada tahun 1911 setelah wafatnya Teuku Maat Cik di Tiro (cucu Teuku Cik Di Tiro) dalam suatu peperangan melawan Belanda. Sementara Sultan Aceh, Muhammad Daud Syah sendiri meninggal pada tahun 1939 dalam masa pengasingannya di Jakarta.

Sultan Aceh terakhir ini memiliki seorang putra sulung, calon Putera Mahkota Kesultanan Aceh Rayeuk, yaitu Tuanku Raja Ibrahim. Sebagai putera seorang raja, kehidupan
Raja Ibrahim penuh dengan pengalaman dan petualangan. cukup beragam. Ia mengunjungi negara-negara Eropa bahkan Belanda hingga bertemu dengan Ratu Wilhelmina. Menjelang dewasa, Tuanku Ibrahim mengikuti jejak sang ayah bergerilya di hutan-hutan melawan Belanda. Pada tahun 1937, ia kembali ke Aceh. Selama di Aceh, Raja Ibrahim bekerja sebagai seorang Mantri Tani di Sigli dengan penghasilan sebesar 9.000 rupiah pada tahun 1940an. Ia menetap di Lam Lho bersama istri dan ke-15 anaknya. Harapannya yang paling besar adalah berkunjung ke Jakarta untuk zirah ke makam ayahnya Sultan Alaidin Daudsyah.

Seorang anggota DPRD Aceh yang datang berkunjung untuk menjenguknya, mendapati hidup Raja Ibrahim dalam keadaan yang sangat memprihatinkan. “Untuk hidup wajar saja dengan uang sebegitu, tentu susah”, keluhnya. Kemudian dengan SK no. 100/76 dari Pemda Aceh saat itu, Raja Ibrahim memperoleh sebuah rumah kecil. Ia juga memperoleh bantuan uang sebesar Rp. 5000,- dari Sultan Hamengkubuwono IX serta bantuan-bantuan lain dari Pemda maupun Depdagri. Meski demikian bantuan-bantuan tersebut tidaklah mencukupi untuk hidup lebih layak apalagi sebagaimana mestinya seorang Raja/Sultan. Bahkan rumah bantuan pemerintah juga wajib dikembalikan setelah dirinya meninggal dunia.

Hingga sepeninggal beliau pada tahun 1979, Raja Ibrahim tidak pernah kembali lagi ke Jakarta sebagaimana keinginannya tersebut. Kisah di atas merupakan perjalanan kehidupan yang menggambarkan kegagalan kita dalam melihat sejarah dan para saksi matanya yang telah berkubang lumpur dan bahkan menumpahkan darah bagi kemerdekaan dan kemajuan generasi berikutnya. Ironis, apabila sejarah dipandang sebelah mata, apalagi sekarang dimanfaatkan dan dimanipulasi demi kepentingan penguasa yang akhirnya mengaku sebagai pewaris kejayaan Aceh, atau mengaku-ngaku sebagai Sultan/Wali Nanggroe Aceh Rayeuk Darussalam.

Thursday, November 9, 2017

Kisah Abu Panton Tertidur di Bale Beuton Ketika Sedang Asiknya Muthala'ah (Membaca) Kitab


Pada suatu malam, ketika sedang asiknya membaca (muthala'ah) kitab Mazahibul Arba'ah, Abu Panton (Alm. Tgk. H. Ibrahim Bardan) tertidur di bale beuton. Jam di dinding terus berdetak, malam kian larut, Abu tertidur begitu pulas.

Tiba-tiba, Abu terjaga dari tidurnya, dalam situasi kedua matanya yang masih enggan untuk melihat dengan jelas, sontak Abu kaget, Beliau terkejut saat menyadari sosok gurunya, Abon Abdul Aziz sedang berada di sisinya. Abu lantas bangun dan bertanya;

Sudah berapa lama Abon disini?
Abon menjawab dengan suatu isyarah yang menunjukkan kalau Beliau telah lama berada disana. Lantas Abon bertanya, kitab apa itu?
Mazahib Arba'ah, jawab Abu Panton. Disini tertulis kalau talak tiga dalam satu kali ucapan itu jatuhnya satu, bukan tiga.

Abon pun menanggapi, keliru, tulisan itu keliru. Yang benar talak tiga dalam satu ucapan itu jatuhnya tiga, sesuai dengan isi ucapan itu sendiri.
Tapi disini tertulis begini, apa alasannya salah? (tanya Abu penasaran).
Pateh lagee yang long peugah, "patuh saja seperti yang saya katakan," tegas Abon.
Dan Abon pun mengambil kitab itu dari Abu kemudian sambil mondar mandir dalam balee beuton dan mengapit-apit (komat kamit) sambil menelaah kitab yang ada di tangannya. Dengan jawaban Abon yang demikian abu merasa tidak ada yang perlu ditanyakan lagi dan meyakini saja ungkapan Abon tersebut. Tetapi yang lebih mengherankan, kata abu, adalah sambil berjalan mondar-mandir, Abon terus menerus mengucapkan kata-kata seperti orang sedang membahas isi kitab, tetapi abu sama sekali tidak mengerti maksudnya.

Kebenaran ungkapan Abon itu terbukti ketika beliau menunaikan ibadah haji ke Baitullah dan membeli satu kitab hadits yang di dalamnya termaktub semua surah (pembahasan) yang Abon jelaskan sambil mondar mandir di Balai Beton beberapa tahun silam. Pada hal kitab tersebut tidak ada dalam perpustakaan Abon. Ini berarti jangankan Beliau pernah memutala’ah kitab tersebut, mungkin melihatpun belum pernah. Menurut abu, ini adalah salah satu bukti bahwa Abon banyak mendapat ilham dari Allah SWT. Masya Allah.

Begitulah, Abu Panton sedikit bercerita pada penghujung acara Mubahatsah saat Haul Abon yang ke 23 beberapa tahun silam. Abu Panton menceritakan sedikit banyak kisahnya bersama Abon saat masih belajar di Mudi Mesra. Seperti beberapa tahun sebelumnya, malam ini, Abu sudah tidak lagi hadir dalam Mubahatsah.

Demikianlah, sedikit coretan mengenang Allah Yarham guru kita Abu Panton.
Disisi lain, betapa mulianya seorang Abon (Tgk. H. Abdul Aziz bin Muhammad Saleh) yang keberadaannya telah mampu melahirkan ratusan Ulama di Aceh dan sebagian nusantara.
Allaahummaghfirlahumaa.. Kini kedua guru dan murid itu telah tiada. Semoga Allah menempatkan keduanya pada 'illiyyin bersama para Anbiya. Aamiin.....!!

Tgk Meunasah Kumbang Merupakan Kakek Tgk Ahmad Dewi (Ulama Sufi)



Perahu Kehidupan - Nama Tgk Meunasah (Mns) Kumbang, begitu populer di Aceh. Namun, generasi saat ini jarang yang tahu, di mana bermukimnya ulama sufi berkharismatik dan cerdik tersebut. Sesuai sejarah, beliau tidak hanya alim dan menguasai ilmu agama dengan baik. Tapi, juga gudang akal, sehingga kalauada sengketa hukum di masyarakat, demikian mudah ia menyelesaikannya, tentu dengan bantuan ilmu dan akal (logika) yang kombinasikan beliau.Tgk Mns Kumbang, atau Abu Mns Kumbang nama aslinya Tgk H Hasballah bin Tgk H Muhammad Saleh, hidup dari tahun 1834 – 1939 (tutup usia 105 tahun). Ia sangat menguasai hukum adat Aceh, qanun (peraturan daerah) dan reusam (kebiasaan dalam suatu komonitas penduduk Aceh).Pada usia beliau 39 tahun, perang Aceh dengan
kolonial Belanda, pecah (tahun 1873).

Juga Baca Berita Kisah Islam Lainnya :
Berarti selama 64 tahun beliau hidup dalam suasana peperangan antara Aceh – Belanda. Karena beliau cerdik cendekiawan, dalam sejarah Pemerintah Belanda tidak membenci beliau, kendati dalam batin Abu Mns Kumbang, tetap membenci penjajah Belanda.Belanda sangat segan, sekaligus mencintai dan menghormati Abu Mns Kumbang. Buktinya, pada hari beliau mangkat (berpulang kerahmatullah) di Gampong (Desa) Mns Kumbang, Kec Syamtalira Aron, Aceh Utara, para pembesar Belanda, ikut melayat dan memerintahkan seluruh perangkat Pemerintahan kolonial itu untuk ikut melayatnya.
    Tidak terhitung berapa banyak perkara pelik yang diselesaikan Abu Mns Kumbang dengan cara bijaksana, adil dan puas bagi pihak yang bersengketa. Sebagai contoh kecil,…Syahdan: SUATU ketika, sepasang suami isteri di Aceh Utara, terlibat proses perceraian. Persoalan berikutnya,berlanjut kepada proses pembagian harta (peura’e harta).Sang perempuan (isteri) yang kurang faham terhadap hukum agama Islam, tidak bersedia bagian harta itu lebih banyak untuk laki-laki (suami). Tapi, ia menuntut bagi sama (fifti-fifti), dengan alasan sama capeknya dalam berusaha mencari rezki. Alih-alih persoalanpun sampai kepada majlis adat, yaitu geuchil/kepala desa (Kades), Imam Meunasah dan perangkat desa lainnya.Ketika sidang berlangsung di Meunasah (Surau), sang perempuan tetap bersitegang, seluruh harta wajib dibagi dua.

    Saat proses penyelesaian perkarasecara adat menjelang buntu, salah seorang dari pengetua adat,meminta bantuan Abu Mns Kumbang.Sebaik Abu Mns Kumbang tiba, beliau tidak berbicara apa-apa. Cuma memerintahkan Imam Meunasah, untuk meminjam beras zakat fitrah yang belum terbagi kepada yang berhak, agardimasukkan di dalam karung seberat 100 kg. setelah karung berisi beras itu siap, Abu Mns Kumbang menyuruh si laki-laki untuk mengangkat, seraya membawa beberapa puluh meter dan kembali lagi ke Meunasah.Si lelaki melaksanakan tugas itu dengan baik, namun ketika giliransi perempuan, ternyata ia gagal. Berdasarkan fenomena tersebut, Abu Mns Kumbang, menyampaikan nasehat.

    Bahwa, pembagian harta itu takarannya lebih banyak kepada lelaki, bukanlah kemauan manusia. Tapi, hukum Allah yang tidak boleh dilanggar.“Bagaimanapun kuatnya postur tubuh perempuan, dalam kontek hukum Allah adalah makhluk lemah. Sebaliknya, bagaimanapun lemahnya postur tubuh seorang laki-laki, dalam kontek hukum Allah, ia adalah makhluk yang kuat. Maka dari situ, ada tanggungjawab lelaki untuk memimpin, menjaga dan melindungi perempuan,” demikian nasehat Abu Mns Kumbang. Akhirnya pasangan suami isteri yang bercerai itu, ikhlas menerima bagiannya masing-masing.Usai memberi jalan keluar terhadap masalah masyarakat tersebut, Abu Mns Kumbang pamit meninggalkan majlis adat, seraya hadirin bangkit serentak dari duduk menyalami beliau. Sebagaimana biasa, beliau kembali menggamit tasbih di saku bajunya, seraya mulutnya komat-kamit berzikir, sambil mengayun langkah pulang ke rumah.Setelah meninggal dunia, Tgk H Hasballah bin Tgk Muhammad Saleh (Abu Mns Kumbang) tersebut, dikebumikan di Desa Meunasah Kumbang, dia atas areal tanah seluas 800 meter persegi. Kemudian, komplek tersebut bertambah dengan makam-makam isteri dan anak-anaknya, serta kaum kerabat.

    Saturday, October 21, 2017

    Kisah Al Marhum Tgk. Syech H Adnan Mahmud (Nek Abu Bakongan)


    PerahuKehidupan.com -  Tgk. Syech H Adnan Mahmud yang akrab disapa Nek Abu atau Abu Bakongan, beliau meninggal dalam usia 106 tahun. Berita berpulangnya Abu Adnan menyebar secara cepat di kalangan masyarakat Aceh, khususnya Aceh Selatan. Bahkan dalam waktu singkat informasi itu berkembang hingga ke berbagai plososk di kawasan Aceh, bahkan hingga keluarga aceh, Malaysia dan lain sebagainya.

    Berbagai kalangan datang melayat ke rumah kediaman al - marhum, baik dari kalangan pejabat negara, ulama terkemuka, tokoh masyarakat dan masyarakat umum lainnya, dan dari berbagai kabupaten juga hadir di Kompleks Dayah Ashabul Yamin yang didirikan al - marhum. 

    Jenazah almarhum dishalatkan di Masjid Baitul Halim yang dihadiri sedikitnya ribuan jamaah, sekitar pukul 13.30 WIB jenazah dimakamkan di Kompleks Pesantren Ashabul Yamin, yakni di samping makam Ummi Hj Hasani (istri almarhum). Semasa hidupnya almarhum menyebut bangunan itu sebagai “Taman Rohani”.

    Abon Hasbi Nyak Dywa, salah seorang ulama karismatik dari Kuta Fajar Aceh. Selatan menyampaikan sambutan dan pelepasan jenazah al - marhum. 

    Abu Adnan Mahmud meninggal dalam usia sangat tua, yakni umurnya telah mencapai 106 tahun. Beliau meninggal setelah satu pekan kembali dari Malaysia untuk berobat tumor pada tenggorokan (di bawah lidah) yang dideritanya dalam beberapa bulan terakhir.

    Abu Adnan mahmud beliau lahir pada tahun 1905. Al - marhumah istrinya bernama Hj Hasani. Pasangan ini mempunyai tujuh putra, 35 cucu. Al - marhum Abu  menamatkan pendidikan dayahnya di Darussalam Labuhan haji Aceh Selatan, beliau merupakan salah seorang murid tertua dari Syekh Muda Wali al-Khalidy, ulama yang tersohor di Aceh. 

    Dalam sejarah hidupnya, Abu Adnan dikenal sebagai seorang ulama yang teguh dalam prinsip Ahlussunnah wal Jama'ah dan bermazhab Syafi'i. 

    Al - Marhum Abu Adnan mahmud Selain mengajarkan ilmu agama di Dayah Ashabul Yamin, Abu juga pernah berkecimpung di dunia politik. Beliau pernah duduk menjadi anggota dewan (DPRD) Provinsi Aceh dua periode (1971-1981).

    Haul Perdana Nek Abu Adnan Bakongan

    Sekitar empat ribuah jama’ah menghadiri acara peringatan hari ulang tahun (Haul) wafatnya ulama kharismatik Tgk. Syech H Adnan Mahmud atau yang kerap disapa sebutan Nek Abu Adnan Bakongan, genap satu tahun sudah Nek Abu Adnan Mahmud berpulang kerahmatullah. Seperti yang telah diketahui bersama bahwa Nek Abu Adnan Mahmud adalah sosok ulama yang tertua ketika ia masih hidup, ia menjadi ayah bagi para Ulama- Ulama Aceh. 

    Al- Marhum Abu Adnan Mahmud juga seorang mursyid daripada Thariqat Naqsyabandiyah dan beliau juga sering mengijazahkan berbagai macam thariqat kepada santri- santrinya (Anak didiknya) dan umat Islam (Masyarakat).

    Acara peringatan Haul Nek Abu Adnan Bakongan yang dimulai sejak Selasa Malam, yang diisi dengan khataman Al Quran, Shamadiayah dan Tahlil, Tausyiah dan peletakan batu pertama perluasan Makam Nek Abu Adnan Bakongan. Dalam acara itu dihadiri oleh Alumni Dayah Ashabul Yamin, Bakongan, Aceh Selatan, para pimpinan- pimpinan dayah, Teungku- Teungku dayah baik dari Aceh, Jambi, Padang, Riau dan Palembang, juga turut hadir unsur pemerintah Aceh Selatan, juga tokoh- tokoh lainnya.

    Acara yang dipusatkan dikomplek dayah Ashabul Yamin, Bakongan, Aceh Selatan berjalan dengan khidmat dan baik. dalam tausyiah yang disampaikan oleh muridnya Abon Hasbi Kota Fajar, beliau menuturkan sejarah panjang kehidupan sosok Nek Abu Adnan Bakongan yang patut diteladani oleh umat manusia dan mengikuti jejak langkah- langkahnya serta melanjutka perjuangan beliau. tegas Abon Hasbi Nyak Diwa, Ulama kharismatik asal Kota Fajar ini dalam pidato beliau.